TEMPO.CO, Jakarta - Massa aktivis dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumatera Selatan terlibat bentrok dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Sumatera Selatan. Bentrok itu terjadi di tengah-tengah aksi unjuk rasa menentang rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Petugas Satpol PP mulai marah setelah massa nekat menurunkan bendera Merah Putih tepat di depan ruang kerja Gubernur Alex Noerdin. Selain itu, massa berencana menyegel kantor Gubernur beserta kendaraan dinas yang ada di halaman parkir.
Andriana, orator KAMMI Sumatera Selatan, dalam orasinya menyesalkan sikap yang ditunjukkan oleh Satpol PP dalam menghadapi aksi unjuk rasa mahasiswa. Menurut Andriana, aksi unjuk rasa yang dilakukan para aktivis masih dalam batas kewajaran.
Menurut dia, apa yang disuarakan para aktivis murni untuk menentang kenaikan harga BBM karena kenaikan itu bakal menjauhkan masyarakat Indonesia dari kesejahteraan.
"Kita bersikap karena kita yakin kebijakan pemerintah tidak berpihak pada rakyat banyak. Rakyat ditipu dengan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM)," kata Andriana.
Sebelum terjadi pemukulan oleh anggota Satpol PP, unjuk rasa berjalan dengan damai. Massa mulai dipukuli setelah mereka mencoba menurunkan bendera Merah Putih. Tindakan pengunjuk rasa dilakukan setelah gagal mendapatkan dukungan tertulis dari Asisten II Pemerintah Provinsi Sumsel, Eddy Hermanto. "Kami sangat mendukung apa yang disuarakan oleh rakyat dan mahasiswa. Tetapi, kalau meminta tanda tangan, kami tidak bisa," ujar Eddy.
PARLIZA HENDRAWAN
INFO : Buat sobat yang suka dengan artikel Kesawan Daily, silahkan anda share di mana saja anda suka (blog, facebook, twitter dll). Namun, bila di post di BLOG anda dimohon mencantumkan LINK SUMBER dari artikel yang sobat blogger share (copy/paste).. Terima kasih atas perhatiaannya sobat,,

Posting Komentar